HOTS yang Hits

Banyak pakar yang sudah memprediksi apa yang terjadi di abad 21 dan merumuskan keterampilan yang dib                     utuhkan, diantaranya keterampilan critical thinking skills, creative thinking skills, communication dan collaborative skills. ASEAN Business Outlook Survey 2014 melaporkan hasil kajiannya dan menyatakan bahwa Indonesia dianggap sebagai negara tujuan investasi asing dan bahkan menjadi salah satu tujuan utama di wilayah ASEAN. Survei tersebut juga mengindikasikan fakta yang kurang baik, bahwa Indonesia memiliki tenaga kerja dengan keahlian rendah dan murah.

Diperlukan standar kompetensi yang tinggi bagi siswa yang diperlukan pada abad ke-21. Sekolah ditantang menemukan cara dalam rangka memungkinkan siswa sukses dalam pekerjaan dan kehidupan melalui penguasaan keterampilan berpikir kreatif, pemecahan masalah yang fleksibel, berkolaborasi dan berinovasi. Beberapa sumber seperti US-based Partnership for 21st Century Skills (P21), mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad ke-21 yaitu “The 4Cs” communication, collaboration, critical thinking, dan creativity. Kompetensi-kompetensi tersebut penting diajarkan pada siswa dalam konteks bidang studi inti dan tema abad ke-21.

Berdasarkan riset mengenai kompetensi yang dibutuhkan abad 21 ini, maka pemerintah mengembangkan kurikulum yang berbasis keterampilan 4C, literasi dan penguatan karakter. Tujuan dan indikator pembelajaran harus dapat mengantarkan siswa memiliki kemampuan abad 21 tersebut, termasuk didalamnya keterampilan berpikir tingkat tinggi atau dengan istilah lain Higher Order Thinking Skill (HOTS). Begitupun dengan proses pembelajaran yang diciptakan guru harus dapat merangsang munculnya HOTS melalui model-model pembelajaran seperti model Problem Solving Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah), Project Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek), Discovery Inquiry Learning, dan penilaian yang dilakukan guru pun harus penilaian yang dapat mengukur ketercapaian kompetensi HOTS ini.

Selama beberapa tahun terakhir ini HOTS disosialisasikan kepada semua guru dan stakeholder, namun kenyatannya tidak semua guru memahami esensi dan prakteknya di kelas. HOTS diartikan sebagian guru adalah bentuk dari penilaian terhadap ranah kognitif siswa, sehingga mereka terjebak dengan persoalan bagaimana membuat soal atau pertanyaan bagi siswa yang terkategori HOTS tanpa memperhatikan proses pembelajaran yang dapat membentuk berpikir HOTS. Pemikiran mengenai HOTS sebagai bentuk penilaian kognitif siswa tidaklah sepenuhnya benar, itu hanya sebagian kecil dari esensi yang sebenarnya. HOTS yang kepanjangan dari Higher Order Thinking Skills adalah suatu ranah berpikir tingkat tinggi berasal dari teori taksonomi Bloom (1956) dan disempurnakan oleh Anderson and Krathwohl tahun 2001.

Apa itu HOTS?

Konsep HOTS dalam ranah kognitif yang melibatkan perkembangan keterampilan intelektual dan secara bertahap berkembangan dari cara berfikir konkret ke abstrak (Forehand, 2010; Pappas, Pierakos & Nagel, 2012). Dalam HOTS, peserta didik diharuskan menguasai keterampilan dalam level menganalisis (Analyze) atau Cognitive 4 (C4)  , mengevaluasi (Evaluated) Cognitive 5 (C5) dan mencipta (Created) atau Cognitive 6 (C6). Ranah berpikir tingkat tinggi ini merupakan ranah tertinggi dari thinking process ini adalah Cognitive 6 (C6) atau Creative Thinking Skills.

Sebenarnya taksonomi Bloom yang digunakan dalam menentukan tujuan dan indikator pembelajaran bukanlah hal yang baru, dari setiap jenis kurikulum yang berlaku di Indonesia  mulai KBK 2004, Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013 semuanya menuntut guru untuk membelajarkan siswa sampai pada tahapan kognitif tertinggi yakni C6 (create), namun kenyatannya guru sulit menumbuhkan dan membelajarkan siswa mencapai C6. Banyak faktor yang menjadi kendalanya mulai dari kompetensi guru yang terbatas, pembinaan dan supervisi kelas oleh Kepala Sekolah dan pengawas yang tidak menyentuh pada penguasaan tertinggi ranah kognitif, evaluasi terhadap standar kelulusan yang seringkali luput dari perhatian sekolah sera faktor lainnya yang secara langsung atau tidak mempengaruhi kinerja guru.

HOTS merupakan keterampilan berpikir yang harus dilatihkan guru di kelas melalui proses pembelajaran yang dapat merangsang munculnya HOTS. Proses pembelajaran yang diciptakan guru di kelaslah yang dapat membangkitkan anak untuk belajar dan berpikir lebih kritis, analitis dan kreatif. Terdapat beberapa model pembelajaran yang sudah dikenal guru melalui berbagai pelatihan misalnya pada pelatihan Kurikulum 2013, yakni model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning), Pembelajaran Berbasis Inquiry (Inquiry Based Learning), Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery Based Learning) dan masih banyak lagi model lainnya.

Jika guru sudah menciptakan pembelajaran yang dapat merangsang berpikir kritis, analitis, evaluatif, kreatif (HOTS) maka keterampilan berpikir tersebut harus diukur dengan mengguna penilaian yang berbasis HOTS pula. Jadi jika guru belum membelajarkan siswa dan bahkan didalam perencanaan pembelajaran (RPP) belum menentukan indikatir pembelajaran yang mengarah pada kompetensi HOTS maka tidak adil jika siswa dinilai dengan menggunakan soal/ pertanyaan yang mengarah pada penguasaan HOTS.

HOTS Menjadi Hits Memasuki Era Revolusi 4.0 dan Abad 21

Inovasi dan kreatifitas adalah keterampilan berpikir yang melatar belakangi munculnya revolusi gelombang ke 4 yakni era penerapan teknologi modern, manusia mulai memasuki peradaban baru dimana semua pekerjaan semakin mudah, semua mesin terhubung dengan internet yang dapat diprogram dan dikendalikan tanpa dibatasi ruang dan waktu. Akurasi, efisiensi dan efektifitas bukan lagi menjadi persoalan yang harus dipecahkan lagi. Revolusi 4.0 begitu terasa dalam kehidupan kita saat ini, contoh yang paling terasa keberadaan para angkutan online yang perlahan tapi pasti mampu menggerus laba dari angkutan tradisional seperti taxi. Contoh lain munculnya pekerjaan-pekerjaan baru seperti pekerjaan mencuci sepatu yang pasarkan secara online, begitupun dengan makanan yang dipesan secara online dan diantar tepat di depan hidung kita hanya dnegan menggerakan jari tangan melalui android. Semuanya itu bermula dari ide-ide kreatif dan inovatif yang mucul dari anak-anak yang berpikir kreatif dan solutif atas permasalahan yang dihadapi.

Lantas pendidikan kita saat ini harus bagaimana?, tentunya membekali peserta didik dengan bekal kompetensi yang dapat menjawab kebutuhan masa mendatang, membekali mereka dengan pembelajaran yang dapat membentuk HOTS tentunya menjadi tuntutan saat, karena siswa akan menjadi pelaku kehidupan di 10-20 tahun mendatang oleh karena itu HOTS menjadi sesuatu yang ‘hits’ tuntutan pendidikan dan kurikulum abad 21, sehingga pendidikan dapat lebih cepat mengantisipasi perubahan dan revolusi yang lebih dahsyat lagi.

Kendala yang dihadapi Guru dan Solusinya

Survey yang dilakukan Subroto Raih dkk pada tahun 2018  kepada Guru-guru SD di wilayah Kota Surakarta, Sukoharjo, Boyolali, Wonogiri, Klaten, Karanganyar dan Sragen, menunjukkan bahwa 91,43% responden memahami konsep dari HOTS, 82,86% responden sudah menerapkan HOTS pada kegiatan pembelajaran, 79% responden kesulitan dalam merancang dan menerapkan evaluasi berbasiskan HOTS, 59% kesulitan dalam penyampaian materi pembelajaran, 45% kesulitan dalam merancang media pembelajaran, 38% kesulitan dalam merancang perangkat pembelajaran dan sebesar 31% kesulitan dalam proses penyusunan bahan ajar.

Kesulitan terbesar yang dhadapi guru adalah kesulitan dalam merancang dan menerapkan evaluasi. Dalam merancang dan mengembangkan penilaian berbasis HOTS, salah satu strategi yang bisa dilakukan guru adalah dengan menyusun soal-soal yang bersifat non rutin atau open ended problem (soal terbuka). Menurut Suherman, Turmudi & Rohayati (2003: 123) soal terbuka atau open ended adalah soal yang berbasiskan permasalahan yang diformulasikan memiliki multi jawaban yang benar. Tujuan utama siswa diberikan masalah terbuka adalah siswa lebih ditekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Dengan demikian, siswa akan terlatih untuk berfikir multiperspektif dan non rutin sehingga berdampak pada kemampuan berfikir siswa yang semakin meningkat.

Kesulitan dalam penyampaian materi pembelajaran, merancang perangkat pembelajaran dan penyusunan bahan ajar guru harus didorong untuk banyak mengembangkan diri baik secara inidividual maupun berkelompok melalui diskusi dan belajar bersama yang dibimbing oleh narasumber di berbagai kelompok kerja guru, agar terjadi kolaborasi dan sharing pengetahuan dan pengalaman serta akses berbagai model-model pembelajaran yang sudah dilakukan para guru di seluruh dunia melalui youtube atau video pembelajaran serta banyak lagi sumber belajar lainnya, terpenting guru memiliki semangat untuk selalu belajar dan belajar.

Dengan cepatnya perubahan dan peralihan teknologi ini maka bukan jamannya lagi guru hanya diam menunggu instruksi Kepala Sekolah dan Pengawas, guru kekinian adalah guru yang selalu siap berubah, siap meningkatkan kompetensi dan kinerja, kreatif dan inovatif, bagaimana tidak, mendidik anak-anak yang HOTS dapat berhasil jika gurunya pun adalah guru HOTS pula. Maka jadilah guru yang HOTS dan nge-hits, selau update dalam setiap isu dan perubahan dalam pendidikan dan pembelajaran.

(Artikel ini pernah dimuat di buletin NADI LPMP Jawa Barat vol 13 Juni 2019 oleh Rina Mutaqinah, LPMP Jawa Barat)

leave a reply