parallax background

APLIKASI METAKOGNISI PADA PEMBELAJARAN SAINS

7 May 2018
Workshop Evaluasi Sekolah Model SPMI 2018
5 April 2018
Program Pemanfaatan Sumber Belajar (P2SB)
13 May 2018

APLIKASI METAKOGNISI PADA PEMBELAJARAN SAINS

Dr. Mochamad Zen

Widyaiswara di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Barat

081573408141


mochamad_jen@yahoo.com

Pembelajaran sains menarik didiskusikan berkaitan dengan karateristik peserta didik untuk belajar. Sesungguhnya peserta didik belajar inilah yang menjadi harapan dari segala macam bentuk pembelajaran sains (Mujtaba et al. 2018).

Pembelajaran berkembang seiring dengan perkembangan sains dan teknonogi. Salah satu ranah pengetahuan yang menarik untuk didiskusikan adalah dimensi pengetahuan yang terdiri atas konsep, fakta, prosedur dan metakognisi(Gunstone & Jeff Northfield, 2007).

Pembelajaran pada dimensi metakognkisi bertujuan untuk mempermudah peserta didik membuka pengetahuan baru dalam perkembangan sains dan teknologi. Metakognisi menjadi stimulus yang menghubungkan pengetahuan masa lalu yang dimiliki peserta didik dengan perkembangan sains dan teknologi.

 
 
 

Mengembangkan metakognisi di sekolah bisa dilihat sebagai kesempatan yang penting bagi siswa untuk belajar.
sumber : https://ukedchat.com/2017/10/18/meta-cognition/

 

„Metakognisi pada pembelajaran sains mudah dijelaskan dengan menggunakan metode laboratorium atau demontrasi.”

Metakognisi pada pembelajaran sains mudah dijelaskan dengan menggunakan metode laboratorium atau demontrasi. Sehingga alur dimensi pengetahuan konsep, fakta dan prosedur mudah dipahami untuk menjelaskan metakognisi.

Kesulitan peserta didik memahami metakognisi mempengaruhi penguasaan sains dan teknologi, kemajuan sains dan teknologi maju lebih cepat melebihi perkembangan pembelajaran sains. Kecepatan perkembangan sains dan teknologi berubah setiap 18 jam sekali.

 

Pembelajaran sains menarik didiskusikan berkaitan dengan karateristik peserta didik untuk belajar.

Kesulitan memahami metakognisi berarti kesulitan memahami perkembangan sains dan teknologi. Hal ini perlu segera di selesaikan permasalahannya. Sehingga peserta didik memiliki kemampuan mengatasi kesulitan tersebut. jika kesulitan dapat diatasi maka menjadi jaminan meningkatnya perkembangan pola pikir pada tahap analisis, sistesis pada inovasi sains dan teknologi (Zepeda et al. 2015).

 

9 questions to improve metacognition

 

Ways to talk to yourself

 
Aplikasi Metakognisi Pada Pembelajaran Sains

Aplikasi metakognisi pada perkembangan sains mudah dijelaskan dengan menggunakan alat bantu “tool atau equipment” seperti KIT atau peralatan laboratorium. Salah satu pengetahuan yang mampu menjelaskan metakognisi adalah konsep-konsep sebagai berikut: konsep benda jatuh bebas, hitung cepat, anomai air, polimer semikonduktor, photocatalyst dan nanopartikel. Untuk tulisan ini hanya akan membahas sebagian kecil dari konsep benda jatuh bebas.

 
Benda Jatuh Bebas

Benda jatuh bebas memiliki konsep, fakta, prosedur dan metakognisi. semua orang sudah dapat menerima konsep benda jatuh bebas sebagai sebuah konsep, fakta pada benda jatuh bebas dapat dilihat dari kenyataannya bahwa benda jatuh bebas disebabkan ada pengaruh Gravitasi bumi ( 9,8 m.s-). Sedangkan prosedural dapat dijelaskan beberapa tahapan, Pertama benda yang berat dijatuhkan lebih dahulu dan dicatat waktunya, prosedur kedua benda yang lebih ringan dijatuhkan, catat waktunya. Prosedur ketiga benda berat dan ringan dijatuhkan bersama sama dan catat waktunya.

Tiga dimensi pengetahuan, konsep, fakta dan prosedural sudah dijelaskan di atas. Guru selanjutnya memperhatikan reaksi yang ditimbulkan oleh mereka setelah melakukan demontrasi pada benda jatuh bebas. Memperhatikan respon peserta didik adalah salah satu cara untuk menunjukkan proses metakognisi telah terjadi.

Metakognisi yang dilakukan peserta didik adalah dengan mempertanyakan demontrasi yang telah dilakukan. Mereka mulai mempertanyaan konsep yang dimiliki dengan kondisi nyata benda jatuh bebas. Mereka berpikir bahwa, benda berat akan jatuh lebih cepat menyenyuh bumi dibandingkan dengan benda yang ringan.

Metakognisi dilanjutkan dengan mempertanyakan kebenaran kedua hal tersebut. Peserta didik melakukan demontrasi ulang pada benda jatuh bebas untuk mendapatkan jawaban yang lebih meyakinkan.

Guru selanjutnya melakukan pendampingan dan penegasan terhadap kebimbangan konsep yang dialami oleh peserta didik. Guru memberikan penjelasan rasional terhadap metakognisi yang dialami oleh peserta didik. Penjelasan praktis menunjukkan benda berat dan ringan dijatuhkan pada ketinggiaan yang sama. Waktu yang dibutuhkan oleh kedua benda tersebut sampai di bumi memerlukan waktu yang sama.

Guru selanjutnya menjelasakan teori benda jatuh bebas, dengan menyampaikan rumusan sederhana sebagai berikut: Y= V_(o.) t+〖½g.t〗^2 (1) Y, ketinggian benda jatuh bebas; V_(o.) kecepatan awal; t, waktu yang diperlukan; g, gravitasi bumi ( 9,8 m.s-).

Guru selanjutnya menjelaskan penurunan persamaan 1, sehingga dapat menemukan, bahwa benda jatuh bebas memiliki nilai V_(o.)= 0 〖Y =½gt〗^2 (2)

Persamaan diselesaikan dengan memindahkan mengalikan dengan dua 2Y=gt^2 (3)

Persamaan di kalikan akar pangkat dua, menjadi g.t=√2Y (4) t=√(2Y/g) (5)

Hasil penurunan persaman benda jatuh bebas menunjukkan bahwa waktu yang diperlukan untuk benda jatuh dari atas ke bawah, hanya dipengaruhi oleh ketinggian dan gravitasi. Persamaan 5, tidak menunjukkan adanya pengaruh massa.

 
Penutup

Jumlah dan jenis pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik yang bernada menyangsikan kebenaran konsep, menjadi indikator proses metakognisi telah terjadi pada peserta didik. Selanjutnya diharapkan peserta didik melakukan demontrasi ulang atau percobaan ulang untuk membuktikan kebenaran konsep tersebut.