parallax background

MEMANUSIAKAN SUPORTER SEPAKBOLA

25 September 2018
Kunjungan Kerja BPS ke LPMP Jawa Barat
25 September 2018
Persiapan Pelaksanaan PPGJ Tahun 2019
28 September 2018

MEMANUSIAKAN SUPORTER SEPAKBOLA

Idris Apandi, M.Pd

Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat, Penulis Artikel dan Buku, Trainer Menulis, Pembicara Seminar-seminar Pendidikan

0878-2163-7667


Sepak bola merupakan olah raga yang paling digemari di dunia. Setiap pertandingan sepak bola mulai dari level tarkam, klub amatir, klub profesional, hingga level negara hampir pasti banyak ditonton baik melalui layar TV, streaming internet, maupun datang langsung ke stadion.

Suporter merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah klub sepak bola. Mereka adalah pemain ke-12 yang menjadi pendukung dan penyemangat sebuah klub atau sebuah negara di stadion. Mereka mendirikan komunitas atau kelompok supporter. Tujuannya untuk menyatukan dan mengoordinir para suporter. Uang dari supporter berupa hasil pembelian menchandise, apparel, dan tiket merupakan salah satu pemasukan bagi klub.

Sebuah klub atau negara ada yang memiliki suporter fanatik atau suporter garis keras (ultras). Mereka setia mendukung dimanapun tim kesayangannya bermain, bahkan bisa mempengaruhi keputusan sebuah klub dalam merekrut atau memecat pemain atau pelatih.

 
 
 

Suporter Timnas Indonesia. Sumber : https://idngoal.news/

 

Supporter setia mendukung dimanapun tim kesayangannya bermain, bahkan bisa mempengaruhi keputusan sebuah klub dalam merekrut atau memecat pemain atau pelatih.

Kehadiran suporter di stadion akan menambah semarak pertandingan sepak bola. Teriakan, nyanyian, dan yel-yel yang diucapkan dapat menjadi penyemangat tim tuan ruan rumah dan bisa membuat ciut nyali tim lawan. Apa jadinya sebuah pertandingan tanpa kehadiran suporter di stadion? Tentunya pertandingan akan sepi berjalan kurang menarik. Oleh karena itu, kehadiran suporter menjadi sesuatu yang sangat penting.

Di negara-negara yang industri sepak bolanya sudah maju seperti Inggris, Spanyol, Jerman, Perancis, dan Italia pada akhir pekan orang-orang datang ke stadion untuk menonton sepak bola. Disamping untuk menonton tim kesayangannya bermain, juga sebagai hiburan. Mereka dengan suka cita dan menikmati setiap pertandingan. Mereka tertib baik ketika masuk ke stadion, selama menonton pertandingan, dan ketika bubar dari pertandingan. Bahkan ikut membersihkan sampah yang ada di stadion.

 

Klub-klub di Indonesia seperti Persib, Persija, Persebaya, Arema, dan tim lainnya juga memiliki suporter fanatik. Para suporter setia mendukung di manapun tim kesayangannya bermain. Bahkan jika menjadi tuan rumah, dapat dipastikan para suporter dari berbagai daerah akan tumpah ruah memenuhi stadion.

Dibalik begitu pentingnya dukungan suporter, ada hal miris yang masih terlihat di dunia sepak bola Indonesia, yaitu konflik yang terjadi antar suporter. Tanggal 23 September 2018 saat Persib Bandung menjamu Persija Jakarta di stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), seorang supporter Persija bernama Haringga Sirilla tewas dikeroyok oleh sejumlah oknum supporter Persib. Peristiwa tersebut bisa dikatakan sangat sadis dan sangat biadab. Sekelompok orang memukul, menendang, menyeret, memukul dengan balok hingga berdarah dan meregang nyawa.

 
 
 

Rintihan dan teriakan minta tolong dari korban tidak mampu menghentikan aksi brutal tersebut. Nilai-nilai kemanusiaan sudah tidak diperhatikan, tertutupi amarah dan kebencian yang sudah sekian lama berkecamuk. Walau sebenarya ribuan aparat keamanan sudah berupaya bekerja secara optimal mengamankan stadion, tetapi peristiwa tragis tersebut tetap terjadi. Kedatangan Haringga ke stadion GBLA untuk mendukung tim kesayangannya tak ubahnya seperti mengantar nyawa. Larangan bagi The Jak untuk datang ke GBLA tidak digubris demi rasa cintanya kepada tim kesayangannya. Cinta memang kadang tidak mengenal logika. Walau dilarang dan sangat beresiko, tetap saja datang.

Persib dan Persija memang dikenal sebagai “musuh bebuyutan” sejak zaman perserikatan hingga berubah liga Indonesia. Jika di liga Spanyol ada pertandingan el classico antara Barcelona versus Real Madrid, maka pertandingan antara Persib dan Persija diberi tajuk elclassico-nya Indonesia karena menjanjikan pertandingan yang bergengsi, ketat, keras menjurus kasar, dan sarat emosi. Hal tersebut juga tidak jarang memancing emosi pemain kedua tim dan para suporter. Apalagi kalau kepemimpinan wasit dianggap tidak netral.

Pertandingan Persib dan Persija bukan hanya masalah sekedar permainan sepak bola, tetapi urusan gengsi dan harga diri bagi kedua klub yang dikenal memiliki banyak suporter fanatik tersebut. Suporter Persib dan Persija memang dikenal sudah lama tidak akur. Hal ini dipicu oleh kesalahpahaman sekian tahun silam diantara mereka. Bentrok antara Viking sebuah bagi suporter Persib dan The Jak sebutan bagi suporter Persija sering terjadi dan sudah banyak merengut nyawa.

 
 
 

Haringga menjadi korban ketujuh laga Persib dan Persija sejak tahun 2012 hingga 2018. Hal tersebut sangat disesalkan dan seharusnya tidak terjadi, tetapi tetap saja terjadi. Berbagai upaya damai antara dua kubu suporter telah dilakukan dengan difasilitasi oleh PSSI dan aparat keamanan, tetapi seolah seperti setengah hati. Perdamaian di antara elit pengurus suporter tidak sampai ke tingkat bawah.

Pada berbagai atribut kedua klub tampak tulisan-tulisan yang mencerminkan fanatisme dan kebencian antara pendukung Persib dan Persija. Di media sosial, aksi saling ledek, ejek, dan saling hina antar pendukung semakin memanaskan konflik kedua kubu suporter. Para pengurus klub, pengurus supporter, PSSI, dan aparat keamanan seperti sudah hampir kehilangan akal untuk mendamaikan Viking dan The Jak. Hal tersebut terlihat dari adanya usulan pertandingan tanpa penonton, pemindahan tempat pertandingan, sanksi bagi kedua klub, dan menghentikan liga Indonesia jika sepak bola hanya menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Belum dewasanya sikap suporter menjadi persoalan serius dalam sepak bola Indonesia. Bukan hanya Viking dan The Jak saja yang sering bentrok, suporter tim lain pun ada yang suka bentrok atas nama fanatisme dan menjaga harga diri klub yang dibelanya. Klub memiliki kewajiban untuk membina supoternya. Fanatisme pada dasarnya sebuah hal yang wajar, tetapi jangan sampai mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan dan akal sehat. Usia suporter sepak bola dari anak-anak, remaja, sampai sampai dengan orang dewasa. Dan para suporter dewasa harus menjadi contoh bagi remaja dan anak-anak untuk menjadi yang suporter yang bersemangat tetapi santun.

 
 
 

Sepanjang sepak bola masih diwarnai kekerasan dan bentrok antarsuporter, belum menjadi olah raga yang layak dijadikan sebuah hiburan. Sebelum pertandingan dimulai, bendera “fair play” suka dibawa ke tengah lapangan untuk mengingatkan agar pertandingan berjalan dengan fair play atau sportif. Sikap fair play seharusnya bukan hanya ditampilkan oleh para pemain, tetapi juga para suporter kedua tim yang bertanding. Persaingan hanya ada di lapangan, tetapi setelah pertandingan selesai, maka selesai juga persaingan tersebut.

Sikap saling menghargai antarsuporter tim yang lain perlu juga ditumbuhkan. Para pengurus kelompok suporter dan klub jangan bosan-bosan untuk mengingatkan para suporter untuk mengikuti pertandingan dengan tertib dan santun. Memang bukan hal yang mudah untuk mengendalikan puluhan ribu suporter di stadion, tetapi setidaknya itu adalah upaya agar semua pihak dapat menyaksikan pertandingan sepak bola dengan nyaman. Sebanyak apapun aparat keamanan yang dikerahkan, tetap akan sulit jika para suporter belum menjadi manusia yang tertib dan mau diatur. Cukuplah Haringga menjadi korban terakhir dari perilaku oknum suporter yang tidak berperikemanusiaan. Mari jadikan kasus ini sebagai pelajaran bagi kita semua.