parallax background

Indikator Ketercapaian Kinerja Tambahan untuk Membantu Guru Menyusun Soal HOTS

17 May 2018
Program Pemanfaatan Sumber Belajar (P2SB)
13 May 2018
Bimtek Pemetaan Mutu Pendidikan Bagi TPMPD, Pengawas dan Operator Angkatan II
30 May 2018

INDIKATOR KETERCAPAIAN KINERJA TAMBAHAN UNTUK MEMBANTU GURU MENYUSUN SOAL HOTS

Dr. Mochamad Zen

Widyaiswara di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Barat

081573408141


mochamad_jen@yahoo.com

Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) menunjukkan kemampuan profesional Guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Salah satu tugas profesional Guru adalah menyusun soal HOTS yang sejenis dengan soal PISA dan TIMSS.

Hasil Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2012 menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia usia 15 tahun (kelas VIII) jejang SMP berada pada peringkat 64 dari 65 negara (OECD, PISA 2012). Sedangkan hasil Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2012 pada kelas VIII jenjang SMP menunjukkan peserta didik Indonesia ada pada peringkat 40 untuk mata pelajaran IPA dan 38 untuk mata pelajaran matematika (Christofer,2013).

Penyusunan soal HOTS dikembangkan Guru di sekolah dengan tujuan untuk meningkatkan standar ketercapaian kompetensi peserta didik, sehingga peserta didik dapat menyelesaikan soal-soal dengan pola berpikir tingkat tinggi(Hightower et al. 2011). Akan tetapi Guru kesulitan menyusun soal HOTS yang tervalidasi(Zammit et al. 2007). Oleh karena itu perlu dikembangkan cara baru yang dapat meningkatkan kompetensi Guru, yaitu Indikator Ketercapaian Kinerja Tambahan yang mampu memfasilitasi Guru meningkatkan kekuatan konten materi, kesungguhan, komitmen, pemahaman dan ketekunan Guru dalam menyusun soal HOTS.

 
 
 

Sumber daya manusia dan konsep strategi bisnis global
sumber : https://www.dreamstime.com

 

„Metakognisi pada pembelajaran sains mudah dijelaskan dengan menggunakan metode laboratorium atau demontrasi.”

Metakognisi pada pembelajaran sains mudah dijelaskan dengan menggunakan metode laboratorium atau demontrasi. Sehingga alur dimensi pengetahuan konsep, fakta dan prosedur mudah dipahami untuk menjelaskan metakognisi.

Kesulitan peserta didik memahami metakognisi mempengaruhi penguasaan sains dan teknologi, kemajuan sains dan teknologi maju lebih cepat melebihi perkembangan pembelajaran sains. Kecepatan perkembangan sains dan teknologi berubah setiap 18 jam sekali.

 

Pembelajaran sains menarik didiskusikan berkaitan dengan karateristik peserta didik untuk belajar.

Kesulitan memahami metakognisi berarti kesulitan memahami perkembangan sains dan teknologi. Hal ini perlu segera di selesaikan permasalahannya. Sehingga peserta didik memiliki kemampuan mengatasi kesulitan tersebut. jika kesulitan dapat diatasi maka menjadi jaminan meningkatnya perkembangan pola pikir pada tahap analisis, sistesis pada inovasi sains dan teknologi (Zepeda et al. 2015).

 

9 questions to improve metacognition

 

Ways to talk to yourself

 
Tahapan Indikator Ketercapaian Kinerja Tambahan (IKKT)

IKKT pada penyusunan soal HOTS dikembangkan melalui 4 tahapan. Tahap pertama adalah persiapan, pada tahap ini dilakukan persiapan untuk menyepakati format IKKT untuk menyusun soal HOTS. Kandungan format pada IKKT disusun dalam bentuk tabel sebagai berikut: kolom no urut, kolom IKKT, kolom pencapaian dokumen IKKT, kolom tanggal ketercapaian IKKT, kolom catatan tugas evaluator, kolom cekhlis ketercapaian atau belum tercapai, kolom alasan tidak tercapai.

Tahap kedua, pelaksanaan penyusunan soal HOTS, diisi dengan cara melengkapi tabel IKKT, sebagai berikut: 1. Kolom no urut, IKKT penyusunan soal HOTS berada pada no urut 5 dari seluruh IKKT yang dikembangkan dari kelompok penyusunan soal HOTS yang berada pada lingkup kompetensi lulusan pada Standar Nasional Pendidikan; 2. Kolom IKKT diisi dengan kesepakatan indikator yang akan dilaksanakan, yaitu peserta didik mampu berinteraksi dengan soal-soal HOTS setara TIMSS/PISA; 3. Kolom pencapaian dokumen IKKT diisi dengan cara mengisi alat evaluasi menggunakan soal HOTS dan hasil Penilaian peserta didik dengan menggunakan soal HOTS; kolom pencapaian dokumen diperoleh bahwa Guru guru sudah berusaha menyusun soal HOTS pada bidang studi Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Tahap ketiga, observasi berisi: 1. Kolom catatan tugas evaluator berisi masukkan hasil kerja peserta bersama dengan cara Guru menayangkan hasil karyanya berupa penulisan soal HOTS dihadapan Widyaiswara pendamping dan teman Guru lainnya, masukan juga diberikan oleh sesama Guru, Kepala sekolah, pengawas pembina dan Widyaiswara pendamping. 2.Kolom cekhlis ketercapaian atau belum tercapai diisi dengan penegasan hasil kerja peserta didik dalam menyusun soal HOTS dan hasil ini diutarakan secara demokratis dihadapan Guru sebagai peserta didik. Hasil chekhlis revisi soal HOTS disepakati bersama seluruh Guru, kepala sekolah, pengawas pembina dan Widyaiswara pendamping.

Tahap keempat, refleksi berisi: Kolom alasan tidak tercapai yang berisi keberatan dan kesulitan pencaian target yang belum dapat ditunjukkan bukti fisiknya.

Refleksi selanjutnya dilihat dari kualitas penulisan soal HOTS menurut standar baku penulisan soal HOTS. Hasil refleksi menunjukkan menjadi masukkan pada pembelajaran selanjutnya. Kesesuaian penulisan soal HOTS dengan standar baku penulisan soal HOTS menjadi motivasi Guru untuk menyusun soal HOTS selanjutnya.

 
Benda Jatuh Bebas

Benda jatuh bebas memiliki konsep, fakta, prosedur dan metakognisi. semua orang sudah dapat menerima konsep benda jatuh bebas sebagai sebuah konsep, fakta pada benda jatuh bebas dapat dilihat dari kenyataannya bahwa benda jatuh bebas disebabkan ada pengaruh Gravitasi bumi ( 9,8 m.s-). Sedangkan prosedural dapat dijelaskan beberapa tahapan, Pertama benda yang berat dijatuhkan lebih dahulu dan dicatat waktunya, prosedur kedua benda yang lebih ringan dijatuhkan, catat waktunya. Prosedur ketiga benda berat dan ringan dijatuhkan bersama sama dan catat waktunya.

Tiga dimensi pengetahuan, konsep, fakta dan prosedural sudah dijelaskan di atas. Guru selanjutnya memperhatikan reaksi yang ditimbulkan oleh mereka setelah melakukan demontrasi pada benda jatuh bebas. Memperhatikan respon peserta didik adalah salah satu cara untuk menunjukkan proses metakognisi telah terjadi.

Metakognisi yang dilakukan peserta didik adalah dengan mempertanyakan demontrasi yang telah dilakukan. Mereka mulai mempertanyaan konsep yang dimiliki dengan kondisi nyata benda jatuh bebas. Mereka berpikir bahwa, benda berat akan jatuh lebih cepat menyenyuh bumi dibandingkan dengan benda yang ringan.

Metakognisi dilanjutkan dengan mempertanyakan kebenaran kedua hal tersebut. Peserta didik melakukan demontrasi ulang pada benda jatuh bebas untuk mendapatkan jawaban yang lebih meyakinkan.

Guru selanjutnya melakukan pendampingan dan penegasan terhadap kebimbangan konsep yang dialami oleh peserta didik. Guru memberikan penjelasan rasional terhadap metakognisi yang dialami oleh peserta didik. Penjelasan praktis menunjukkan benda berat dan ringan dijatuhkan pada ketinggiaan yang sama. Waktu yang dibutuhkan oleh kedua benda tersebut sampai di bumi memerlukan waktu yang sama.

Guru selanjutnya menjelasakan teori benda jatuh bebas, dengan menyampaikan rumusan sederhana sebagai berikut: Y= V_(o.) t+〖½g.t〗^2 (1) Y, ketinggian benda jatuh bebas; V_(o.) kecepatan awal; t, waktu yang diperlukan; g, gravitasi bumi ( 9,8 m.s-).

Guru selanjutnya menjelaskan penurunan persamaan 1, sehingga dapat menemukan, bahwa benda jatuh bebas memiliki nilai V_(o.)= 0 〖Y =½gt〗^2 (2)

Persamaan diselesaikan dengan memindahkan mengalikan dengan dua 2Y=gt^2 (3)

Persamaan di kalikan akar pangkat dua, menjadi g.t=√2Y (4) t=√(2Y/g) (5)

Hasil penurunan persaman benda jatuh bebas menunjukkan bahwa waktu yang diperlukan untuk benda jatuh dari atas ke bawah, hanya dipengaruhi oleh ketinggian dan gravitasi. Persamaan 5, tidak menunjukkan adanya pengaruh massa.

 
Penutup

Jumlah dan jenis pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik yang bernada menyangsikan kebenaran konsep, menjadi indikator proses metakognisi telah terjadi pada peserta didik. Selanjutnya diharapkan peserta didik melakukan demontrasi ulang atau percobaan ulang untuk membuktikan kebenaran konsep tersebut.