GURU PENYEBAR VIRUS MUTU PENDIDIKAN

Panduan Singkat Program PPG – AJUAN PESERTA PPG
4 November 2017
Detik-Detik Menjelang Ekpose Sekolah Model Di Jawa Barat
12 November 2017

Oleh:

IDRIS APANDI

(Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan/LPMP Jawa Barat)

 

Ada pesan menarik ketika kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikaan (LPMP) Jawa Barat Drs. H. Totoh Santosa, MM menyampaikan pengarahan pada saat acara penutupan Workshop persiapan Sekolah Model (sekmod) yang dilaksanakan di LPMP Jawa Barat dari tanggal 24 s.d. 27 Oktober 2017.

Di hadapan 204 orang peserta yang berasal dari Tim Penjaminan Mutu Pendidikan (TPMPD) dan Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Sekolah (TPMPS) yang berasal dari Kota Bandung, Kabupaten Subang, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Garut, Beliau menyampaikan bahwa guru-guru harus menjadi penyebar “virus” penjaminan mutu pendidikan di satuan pendidikannya masing-masing, karena guru merupakan aset penting dan ujung tombak peningkatan mutu pendidikan.

Guru adalah pihak yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Sebagai pengajar dan pendidik, guru adalah pelaksana, pengembang, bahkan sebagai “kurikulum hidup”, dimana setiap perkataan, sikap, dan perbuatannya dijadikan sebagai contoh teladan. Pasal 1 ayat 1 UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Pada Permendikbud Nomor 28 tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) Dasar dan Menengah. Pada pasal 1 ayat 3 disebutkan bahwa “Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas organisasi, kebijakan, dan proses terpadu yang mengatur segala kegiatan untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah yang saling berinteraksi secara sistematis, terencana dan berkelanjutan.”

Lalu pasal 1 ayat 4 menyatakan bahwa “Sistem Penjaminan Mutu Internal Pendidikan Dasar dan Menengah, yang selanjutnya disingkat SPMI-Dikdasmen adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas kebijakan dan proses yang terkait untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan yang dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah untuk menjamin terwujudnya pendidikan bermutu yang memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan.”

Dalam menunjang implementasi Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Internal (SPMI) sekolah, salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah peningkatan mutu dalam pembelajaran. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka guru harus terus meningkatkan profesionalismenya, berpikiran terbuka terhadap perubahan (open minded), kreatif, dan inovatif.

Dalam lingkup SPMI pun, guru banyak yang menjadi menjadi bagian dari TPMPS. Guru harus ikut memahami siklus dan tahapan SPMI, mulai dari pemetaan mutu, perencanaan pemenuhan mutu, pelaksanaan pemenuhan mutu, audit pelaksanaan pemenuhan mutu, dan penentuan strategi penentuan mutu baru.

Dalam konteks pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP), guru erat kaitannya dengan standar akademik, seperti; standar kelulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian. Keempat standar tersebut dapat dipenuhi secara bertahap  dalam waktu yang direncanakan dan disepakati oleh TPMPS. Bentuk kegiatannya beragam, seperti In House Training (IHT), Workshop, pendampingan di KKG/MGMP, atau belajar secara mandiri.

Mutu harus dijadikan sebagai prinsip bahwa “mutu adalah urusan setiap orang”, bukan hanya dibebankan kepada pihak tertentu. Oleh karena itu, setiap stakeholder harus bersinergi, ikut berkontribusi dan berpartisipasi dalam pemenuhan mutu di sekolah. Dan para guru tentunya diharapkan menjadi ujung tombak dalam proses penjaminan mutu di satuan pendidikan.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran memiliki tanggung jawab untuk membimbing, mendorong, dan memfasilitasi para guru untuk meningkatkan profesionalismenya. Guru yang profesional akan berdampak terhadap kegiatan pembelajaran yang berkualitas dan tentunya akan berdampak melahirkan lulusan yang berkualitas.

Dalam menjalankan perannya sebagai penyebar “virus” mutu pendidikan, hal yang dapat dilakukan oleh guru sebenarnya juga bukan hanya terbatas dalam konteks pembelajaran saja, tetapi juga dalam hal yang lain atau hal yang lebih luas, seperti menulis artikel atau buku baik yang berkaitan dengan pendidikan secara umum, berkaitan dengan mata pelajaran yang diampunya, atau pada bidang lain sesuai dengan minat dan bakatnya.