Jurnal Pengembangan Profesi

Launching Wilayah Bebas dari Korupsi di LPMP Jawa Barat
25 Februari 2017
Jurnal Pengembangan Profesi
27 Februari 2017

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA TEMA KEADAAN PENDUDUK INDONESIA MELALUI PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING

(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VII-F  SMP Negeri 1 Lembang)

Oleh : Entin Sumartini

ABSTRAK

Penelitian ini berawal dari hasil observasi awal yang menunjukan hasil belajar siswa yang rendah, sehingga peneliti memberikan suatu pemecahan masalah yang dianggap akan bisa menyelesaikan permasalahan rendahnya hasil belajar siswa. Selain itu penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya asumsi bahwa penggunaan model Problem  Based Learning dapat turut membantu memotivasi siswa untuk belajar lebih baik sehingga mampu meningkatkan kualitas belajar siswa. Penelitian ini berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Tema Keadaan Penduduk Indonesia Melalui Penerapan Problem Based Learning (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VII-F SMP Negeri 1 Lembang)”.

Penelitian ini bertujuan:
(1) Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VII-F setelah menerapkan model pembelajaran problem based learning.
(2) Untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan permasalahan setelah menggunakan model pembelajaran problem based learning. Dalam penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan secara sistematis dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan Penilaian dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran dan meningkatkan kualitas hasil pembelajaran.

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Dalam pelaksanaan Prosedur penelitain tindakan kelas ini dilakukan dengan mengikuti model Kemmis dan Mc.Taggart dalam Wiriatmadja (2009) yang terdiri atas komponen perencanaan (plan), pelaksanaan (act), observasi (observe), dan refleksi (reflect). Perencanaan tersebut berupa pemilihan materi atau fokus pembelajaran yang disesuaikan dengan hasil observasi. Data penelitian dari hasil observasi terhadap pelaksanaan pengajaran aktivitas siswa, angket, dan hasil kerja siswa yang dianalisis dengan menggunakan indikator keberhasilan penelitian ini. Hasil penelitian dari setiap siklusnya yaitu siklus I dan siklus II menunjukan bahwa penggunaan model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa

Kata Kunci : Problem Based Learning, Hasil Belajar

 

1 Pendahuluan

 

1.1  Latar Belakang Masalah

Hasil belajar di kelas VII-F SMP Negeri 1 Lembang tahun ajaran 2014/2015 pada tema Keadaan Penduduk Indonesia belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terlihat dari hasil tes yang hanya 41,46% siswa yang memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa berkaitan erat dengan semangat belajar, konsentrasi belajar rendah, kurangnya interaksi antar siswa maupun dengan media pembelajaran, siswa malas belajar berkelompok dan kurangnya kemandirian siswa dalam belajar. Apabila hal ini dibiarkan tentunya akan menghambat kepada ketercapaian hasil belajar yang baik dan akan mempengaruhi mutu sekolah.

Dari pengamatan peneliti saat ini diperoleh informasi bahwa kemampuan atau hasil belajar siswa masih kurang sekali. Hal itu dimungkinkan karena beragam faktor, antara lain:
(1) model pembelajaran Teacher Centered, statis dan monoton;
(2) pembelajaran yang dilaksanakan guru kurang memberikan kesempatan siswa untu saling berkomunikasi;
(3) pada umumnya motivasi siswa untuk belajar masih rendah. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat di interpretasikan adanya kesenjangan antara kondisi di lapangan dengan tuntutan atau harapan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Hal ini  merupakan permasalahan yang harus dipecahkan dan ditanggulangi bersama terutama oleh guru sebagai seorang pendidik.

Untuk mengatasi masalah di atas, perlu dilakukan upaya dan perbaikan melalui desain dan strategi pembelajaran yang dapat memperbaiki proses pembelajaran sehingga nantinya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Upaya yang ditawarkan oleh peneliti adalah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru. Dalam pelaksanaannya siswa diberikan permasalahan pada awal pelaksanaan pembelajaran, selanjutnya selama pelaksanaan pembelajaran siswa memecahkan permasalahan tersebut, dan pada akhirnya siswa mengintegrasikan pengetahuannya dalam bentuk laporan.

1.2 Rumusan Masalah              

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :

1.Bagaimana perencanaan pembelajaran menggunakan model problem based learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VII-F SMP Negeri 1 Lembang ?
2.Bagaimana pengguanaan model problem based learning di kelas VII-F SMP Negeri 1 Lembang untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada proses pembelajaran di kelas?
3.Bagaimana kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa serta pemecahan masalahanya ketika menggunakan model problem based learning?
4.Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa melalui model problem based learning di kelas VII-F SMP Negeri 1 Lembang?

1.3 Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitiannya adalah :

  1. Mendeskripsikan bagaimana guru membuat perencanaan penggunaan model problem based learning sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VII-F SMP Negeri 1 Lembang.
  2. Mendeskripsikan bagaimana penggunaan model problem based learning meningkatkan keterampilan hasil belajar siswa kelas VII-F di SMP Negeri 1 Lembang dalam pembelajaran di kelas.
  3. Mendeskripsikan kendala apa saja yang dihadapi oleh guru dan siswa serta pemecahnnya ketika menggunakan model problem based learning pada proses pembelajaran.
  4. Mendeskripsikan bagaimana peningkatan hasil belajar siswa melalui model problem based learning di kelas VII-F SMP Negeri 1 Lembang.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak  berikut :

a.Bagi Siswa

1)Mampu meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning.
2)Mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar yang lebih baik.
3)Dapat menjadi model dalam bersikap kritis terhadap hasil belajar.

b.Bagi guru
Memotivasi guru agar lebih kreatif dan inovatif mencari model- model pembelajaran yang tepat untuk menyampaikan suatu topik atau konsep tertentu sehingga dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran

c.Bagi sekolah
Diharapkan menjadi contoh model pembelajaran yang nantinya dapat dikembangkan dengan cara berkolaborasi dengan guru mata pelajaran IPS khususnya dan mata pelajaran yang lain pada umumnya,untuk mengembangkan model pembelajaran yang bermutu, demi perbaikan mutu pendidikan di sekolah.

2 Kajian Teori

 

2.1 Model Problem Based Learning

Model  problem based learning  merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan    mengintegrasikan pengetahuan baru. Siswa diberikan permasalahan pada awal pelaksanaan pembelajaran, selanjutnya selama pelaksanaan pembelajaran siswa memecahkannya, yang akhirnya mengintegrasikan pengetahuan dalam bentuk laporan. Menurut Arends (Trianto, 2007), Problem Based Learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, meningkatkan kepercayaan dirinya. Menurut Glazer (2001) Problem Based Learning merupakan suatu strategi pengajaran dimana siswa secara aktif dihadapkan pada masalah yang kompleks dalam situasi yang nyata. Tujuan utama problem based learning, bukanlah penyajian sejumlah Besar fakta kepada peserta didik melainkan kepada kemampuan pengembangan peserta didik untuk berfikir kritis, sekaligus menyelesaikan masalah dan sekaligus   mengembangkan pengetahuaanya. Untuk memahami pola urutan pbl tersebut, perlu dilakukan sintaks atau langkah – langkah pembelajaran sebagaimana dikemukakan oleh  Nur ( 2011 ) disajikan dalam tabel berikut.

Tabel  Pola Urutan Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah

Dari beberapa pengertian dan teori problem based learning  dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning merupakan suatu metode pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan kurikulumnya disajikan dalam bentuk masalah yang ada (nyata) sehingga siswa mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi yang kemudian akan memecahkan masalah tersebut.

Kelebihan dan Kelemahan Model Problem Based Learning :

Menurut, Hidayati, dkk. ( 2008 ) kelebihan metode problem solving adalah:

  1. Siswa memiliki keterampilan memecahkan masalah
  2. Merangsang pengembangan kemampuan siswa secara kreatif, rasional, logis dan menyeluruh.
  3. Pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan khususnya dunia kerja.
  4. Menimbulkan keberanian kepada diri siswa untuk mengemukakan pendapat dan ide- idenya.

Kelemahan- kelemahan metode problem solving menurut Hidayati, dkk. (2008) yaitu :

  1. Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berfikir siswa itu tidak mudah.
  2. Mengubah kebiasaan siswa dengan belajar mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar yang banyak berfikir untuk memecahkan masalah baik secara individu maupun kelompok yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar merupakan tantangan atau bahkan kesulitan bagi siswa.
  3. Proses pembelajaran memerlukan waktu yang lama.
  4. Kurang sistematis apabila metode ini diterapkan untuk menyampaikan bahan baru.

2.2 Hasil Belajar

Hasil belajar yang dicapai oleh siswa sangat erat kaitannya dengan rumusan tujuan instruksional yang direncanakan guru sebelumnya. Hal ini dipengaruhi pula oleh, kemampuan guru sebagai perancang (designer) belajar-mengajar. Untuk itu guru dituntut menguasai taksonomi hasil belajar yang selama ini dijadikan pedoman dalam perumusan tujuan instruksional yang tidak asing lagi bagi setiap guru di mana pun ia bertugas. Hanya saja masalahnya bagaimana implikasinya dalam perencanaan belajar-mengajar yang harus dibuat oleh guru sebelum mengajar dalam bentuk satuan pelajaran.

Tujuan instruksional pada umumnya dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yakni domain kogntif, afektif, dan psikomotor. Domain kognitif mencakup tujuan yang bcrhubungan dengan ingatan (recall) pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Domain afektif mencakup tujuan-tujuan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan sikap, nilai, perasaan, dan minat. Domain psikomotor mencakup tujuan-tujuan vang berhubungan dengan manipulasi dan kemampuan gerak (motor). Demikian menurut Bloom (1956) dan Krathwohl (1964) dalam Taxomony of Educational Objec­tives. Klasifikasi tujuan tersebut memungkinkan hari belajar vang diperoleh dari kegiatan belajar-mengajar. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa hasil belajar dapat terlihat dan tingkah laku siswa. Hal ini memberikan pula petunjuk bagi guru dalam menentukan tujuan-tujuan dalam bentuk tingkah laku yang diharapkan dari dalam diri siswa.

Salah satu teori yang mendukung mengenai hasil belajar adalah Klasifikasi Tujuan Afektif dari (Krathwohl, 1964) yang terbagi dalam lima kategori sebagai berikut :
(1) Penerimaan, mengacu kepada kesukarelaan dan kemampuan memperhatikan dan memberikan respons terhadap stimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain atektif. (2) Pemberian respons, Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi tersangkut secara aktif, menjadi peserta, dan tertarik.
(3) Penilaian, Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak, atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap” dan “apresiasi”.
(4) Pengorganisasian, Mengacu kepada penyatuan nilai. Sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat rnenimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup. (5) Karakterisasi, Mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang. Nilai-nilai sangat berkernbang dengan teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dfln lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini bisa ada hubungannya dengan ketentuan pribadi, sosial, dan emosi siswa.

3 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substansif, suatau tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan (Hopkins, 1993, hlm. 44 dikutip dari Wiriaatmadja, 2005, hlm.11). Penelitian tindakan kelas oleh guru dapat merupakan reflektif dalam berpikir dan bertindak seorang guru sekaligus menjadi pengalaman dan selalu mempertimbangkan bentuk pengetahuan yang akan diajarkan.

3.1 Setting Dan Karakteristik Subjek Penelitian

            Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Lembang tahun pelajaran 2014/2015 pada siswa kelas VII-F yang berjumlah 41 orang.

3.2 Prosedur Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti melaksanakan dalam 2 siklus, dengan 2 kali pertemuan pada setiap siklusnya. Dimana antar siklusnya merupakan kelanjutan dan perbaikan dari siklus sebelumnya. Dalam pelaksanaan Prosedur penelitain tindakan kelas ini dilakukan dengan mengikuti model Kemmis dan Mc.Taggart dalam Wiriatmadja (2009) yang terdiri atas komponen perencanaan (plan), pelaksanaan (act), observasi (observe), dan refleksi (reflect). Desainnya dari penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Dalam penelitian ini pun akan dijelaskan langkah-langkah penelitian tindakan kelas yang dilakukan, Berikut penjelasannya :

Langkah-Langkah PTK :

  1. Menentukan model pembelajaran yang digunakan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model problem based learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS
  2. Menyusun tindakan dan langkah-langkah yang akan dilakukan sesuai masalah yang dikaji
  3. Melakukan koordinasi dengan orang-orang yang akan terlibat dalam PTK dalam hal ini guru mitra dan pembimbing untuk menyusun program kegiatan penelitian.
  4. Menyiapakan segala sesuatu untuk mendukung proses penelitian ini seperti lembar observasi, pedoman wawancara dan alat pendukung untuk dokumentasi.

Dalam langkah-langkah tersebut memudahkan peneliti pada saat proses penelitian berlangsung. Adapun manfaat dari penelitian tindakan kelas ini untuk meningkatkan kualitas dalam pembelajaran, memperbaiki kinerja pendidik, mendorong guru untuk memiliki sikap professional, daapat mengurangi sikap jenuh dalam proses pembelajaran, dan dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. Saat menentukan metode penelitian yang digunakan peneliti juga membuat alur berpikir atau kerangka berpikir seperti dibawah ini :

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas merupakan salah satu tahapan yang sangat penting. Pengumpulan data ini bertujuan untuk menemukan data-data, keterangan, atau informasi yang relevan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan empat teknik pengumpulan data, yaitu :
(1) Observasi merupakan tehnik yang menuntut peneliti untuk melakukan pengamatan baik secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap objek penelitian. Alasan melakukan observasi yaitu dapat menggambarkan secara jelas perilaku atau kejadian yang berada di lapangan, dan dapat menjawab pertanyaan dari hal yang belum diketahui.
(2) Wawancara,  menurut Juliansyah Noor (2011, hlm: 138) merupakan salah satu tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan berhadapan langsung dengan cara diwawancarai, tetapi dapat juga diberikan draft pertanyaan dahulu untuk dijawab pada kesempatan lain. Menurut Hopkins (1993, hlm. 25) yang dikutip dalam Wiriaatmadja (2009, hlm. 117) wawancara adalah suatu cara untuk mengetahui situasi tertentu didalam kelas dilihat dari sudut pandang yang lain. Dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah suatu tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan berhadapan langsung atau melalui media dengan menggunakan bahasa lisan yang baik. Wawancara dalam penelitian ini untuk mengetahui pendapat atau tanggapan yang akan diberikan oleh siswa setelah menggunakan model Problem based learning  untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS.
(3) Dokumentasi, adalah pengumpulan data dari informasi-informasi yang berada di lapangan bisa berupa dokumen tertulis ataupun dokumen yang langsung dari responden. Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera untuk menggambarkan suasana yang ada didalam kelas.(4)Catatan Lapangan merupakan catatan tertulis berisi tentang segala peristiwa sehubungan dengan tindakan yang dilakukan guru mengenai apa yang dilihat, didengar, dan dipikirkan dalm rangka mengumpulkan data.

3.5 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunaka 3 instrumen yang nantinya akan dijadikan sebagai salah satu alat pendukung dalam penelitian ini, yaitu pedoman observasi, angket dan soal tes.

4 Hasil Penelitian

 

4.1 Hasil Penelitian Siklus I

Berdasarkan hasil observasi, pengamatan, dan hasil tes pada proses pembelajaran siklus ke-1 belum  menunjukkan hasil yang diharapkan. Setelah diskusi dengan teman sejawat, terdapat beberapa masalah tindakan yang belum dilaksanakan pada siklus ke-1 dan perlu diperbaiki pada siklus selanjutnya.

Adapun masalah yang belum diselesaikan adalah :

  1. Dalam penyampaian materi guru belum sistematis
  2. Anggota diskusi kelompok belum kelihatan aktif semua
  3. Gambar dalam LKS (lembar kerja siswa) tidak jelas, sehingga menyulitkan siswa dalam menganalisisnya.
  4. Dalam menyampaikan pendapat hanya sebagian siswa yang aktif.
  5. Dalam proses pembelajaran masih kurang siswa yang berani mengajukan pertanyaan.

Penjabaran mengenai hasil dari siklus satu dapat dilihat dari tabel berikut ini :

Tabel 1.1 Hasil Belajar Siswa

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa ada 20 orang siswa yang mendapat nilai 75 ke atas ( 48,78% ) dan 21 orang siswa yang mendapat nilai kurang dari 75 ( 51,22% ) dengan rata-rata 65,00 Sebagai tindak lanjut bagi siswa yang mendapat nilai kurang dari 75 diberi kesempatan untuk perbaikan, sedangkan siswa yang nilainya lebih dari 75 diberi pengayaan berupa PR.

4.2 Hasil Penelitian Siklus II

Berdasarkan hasil observasi, pengamatan, dan hasil tes pada proses pembelajaran siklus kedua sudah menunjukkan hasil yang diharapkan. Setelah diskusi dengan teman sejawat, peneliti dan teman sejawat memutuskan bahwa penelitian tindakan kelas ini sudah mencapai hasil yang diharapkan sehingga penelitian ini selesai pada dua siklus.

Penjabaran mengenai hasil dari siklus 2 dapat dilihat dari tabel berikut ini :

Tabel 1.2 Hasil Belajar Siswa siklus 2

Dari data tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa ada 32 orang siswa  (78,04%)  yang mendapat nilai 75 ke atas dan 9 orang siswa (21,96%) yang mendapat nilai kurang dari 75  dengan rata-rata 75,36. Sebagai tindak lanjut bagi siswa yang mendapat nilai kurang dari 75 diberi kesempatan untuk perbaikan, sedangkan siswa yang nilainya lebih dari 75 diberi pengayaan berupa PR (Pekerjaan Rumah).

5 Pembahasan

Berdasarkan data hasil penilaian model problem based learning, dapat memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran Tema Keadaan Penduduk Indonesia di kelas VII F SMP Negeri I Lembang. Hal ini tampak pada perubahan hasil ulangan siswa pada tiap siklus tindakan, perubahan tersebut dapat dilihat dari selisih nilai rata-rata kelas.

Untuk lebih jelasnya perkembangan hasil ulangan dari tiap siklus digambarkan pada tabel berikut ini :

Tabel 1.3 Rekapitulasi Nilai Rata-rata kelas dalam dua siklus Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan tabel di atas jika diinterpretasikan ke dalam grafik, maka dapat digambarkan pada grafik di bawah ini :

Grafik 1.1

Tabel 1.4 Rekapitulasi   Hasil Ketuntasan Belajar  dalam dua siklus Tindakan Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan data di atas, siswa yang  mendapat nilainya mencapai  75 (KKM)  ke atas  pada siklus 1 dan dinyatakan telah tuntas sebanyak 20 orang siswa(48,78 %).  Dan pada siklus 2 siswa yang telah mencapai nilainya 75 keatas sebanyak 32 orang ( 78,04 % ).  Dari perbandingan  kedua siklus di atas terjadi suatu peningkatan hasil belajar siswa sebesar 29,26%.  Jika digambarkan dalam grafik berikut :

Grafik 1.2

6 Kesimpulan

Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa :

Pertama, Perencanaan dalam meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran problem based learning, telah dilaksanakan dengan baik. Perencanaan berdasarkan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang tepat, peneliti bersama guru mitra menentukan materi yang akan digunakan pada setiap tindakan. Selanjutnya, peneliti menyusun kegiatan pembelajaran yang akan disampaikan di kelas VII-F, hal tersebut dilakukan agar dapat mencapai tujuan pembelajaran melalui model pembelajaran problem based learning yang dilaksanakan.

Kedua, Penggunaan model pembelajaran problem based learning sebagai upaya meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPS telah dilaksanakan dengan baik. Pada penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus, setiap siklus dilakukan dua pertemuan, dimana pada setiap siklusnya peneliti melakukan porses pembelajaran di kelas melalui model  pembelajaran problem based learning. Pembelajaran berupaya dilakukan berlangsung secara alamiah dalam bentuk siswa bekerja dan membangun pengetahuannya secara mandiri dimana siswa menjadi lebih lancar,  dan dapat membuat pemecahan masalah yang berguna. Selama kegiatan pembelajaran dilaksanakan, peneliti juga melakukan observasi dengan mengacu pada instrumen penelitian yang telah dibuat sebelumnya. Peneliti juga mendokumentasikan setiap kejadian yang berlangsung baik yang tercantum maupun yang tidak tercantum dalam pedoman observasi melalui bentuk foto maupun catatan sebagai catatan lapangan. Catatan lapangan ini merupakan sebagai data pelengkap tindakan-tindakan yang telah dilakukan dalam setiap siklusnya. Namun, terdapat kendala yang terjadi saat pelaksanaan pembelajaran melalui model pembelajaran problem based learning, yaitu dalam memperkenalkan dan menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Antara lain adalah siswa harus mencari isi dan makna dari gambar permasalahan yang diberikan guru, terkadang gambar permasalahan yang ditampilkan dalam LKS tidak jelas, karena ada perbedaan warna gambar yang di print dengan yang di photo copy, dan menyulitkan siswa dalam menganalisisnya. Penerapan model pembelajaran Problem based learning, terjadi peningkatan hasil belajar siswa, hal ini dibuktikan  dari perolehan rata-rata nilai siswa pada dua siklus tindakan.

Ketiga, Kendala dan refleksi dalam pelaksanaan pembelajaran melalui model pembelajaran problem based learning dalam meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa telah memperoleh hasil yang baik. Hal tersebut ditunjukkan oleh peningkatan yang terjadi pada setiap siklus yang dilaksanakan sebanyak dua kali tindakan. Selanjutnya, upaya dalam mengatasi kendala yang terjadi, antara lain upaya tersebut adalah guru sebaiknya menjadi motivator yang memotivasi agar siswa lebih giat lagi dalam belajar.  Menjadi fasilitator dan memonitoring seluruh siswa supaya siswa lebih serius dan teliti dalam kegiatan diskusi, agar dapat menghubungkan informasi-informasi yang didapatkan melalui model pembelajaran problem based learning menjadi alternatif-alternatif dalam pemecahan masalah yang akan dianalisisnya. Hal ini sangat diperlukan mengingat agar tujuan akan keberhasilan dapat tercapai dengan baik maka siswa harus mengerti hakikat dari pelaksanaan pembelajaran melalui model problem based learning. Agar hal tersebut dapat tercapai maka siswa harus bersikap tertib dan disiplin.serta membudayakan membaca kepada siswa agar pengetahuannnya lebih meningkat.

Keempat, Peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model problem based learning pada setiap siklusnya sudah meningkat. Hal ini berdasarkan penilaian hasil belajar siswa yang telah dilakukan pada setiap pelaksanaan tindakan. Pada siklus pertama rata-rata nilai yang diperoleh siswa yaitu 65,00 dan pada siklus kedua nirai rata-rata kelas meningkat menjadi 75,36. Dari perbandingan  kedua siklus tersebut terjadi peningkatan hasil belajar siswa yaitu 20,36.  Pada siklus pertama siswa yang memperoleh nilai 75 keatas sebanyak 20 orang (48,78%) dan dinyatakan tuntas. Sedangkan pada siklus kedua siswa yang memperoleh nilai 75 keatas sebanyak 32 orang.(78,04%). Dari perbandingan kedua siklus tersebut terjadi peningkatan prosentase KKM yaitu sebesar 29,26%.

7 Saran

Pertama, Bagi pihak sekolah, peneliti berharap dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning  dapat meningkatkan  hasil belajar dan berpikir kritis  siswa. Selain itu, penggunaan model PBL diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di SMP Negeri 1 Lembang.

Kedua, Bagi guru, peneliti berharap dengan adanya penelitian ini dapat menjadi masukan bagi guru-guru untuk dapat melaksanakan perannya sebagai fasilitator pembelajaran yang baik dengan cara memotivasi dan memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran di kelas agar dapat meningkatkan hasil belajar, mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang dimiliki, khususnya dalam pembelajaran IPS.

Ketiga, Bagi siswa, peneliti berharap dengan adanya penelitian ini siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil belajarnya serta mengembangkan  berpikir kritis, sehingga akhirnya siswa mampu memecahkan  permasalahan yang dihadapinya.

Keempat, Bagi peneliti, penelitian ini menjadi inspirasi tersendiri bagi peneliti. Hasil penelitian ini bukan merupakan hasil penelitian yang sempurna, sehingga perlu adanya penelitian selanjutnya mengenai penggunaan model pembelajaran problem based learning dalam pembelajaran IPS untuk meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan hidup yang ada di sekitar siswa.


DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Z. (2003). Karya Tulis Ilmiah Bagi Pengembangan Profesi Guru.
Yogyakarta : Yrama Widya
Kemdikbud. (2014). Buku Guru Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta :
Kementrian Pendidikan   dan Kebudayaan.
Nurochim. (2013). Perencanaan Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial.
Jakarta: Rajawali
Wiriaatmadja, R. (2012). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.