Jurnal Pengenbangan Profisi

Jurnal Pengembangan Profesi
24 Februari 2017
Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pelajaran Sejarah di Kelas XI SMK Negeri 2 Ciamis
24 Februari 2017

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR  MATERI PENYIMPANGAN SOSIAL

(PTK di kelas VIII-A  SMPN Satu Atap Pebayuran Kabupaten Bekasi)

Oleh : NENENG HARTI SUSWATI, S.Pd, MM, M.Si

 

Abstrak

       Kasus yang terjadi pada siswa kelas 8.A SMP Negeri Satu Atap Pebayuran Kabupaten Bekasi  dimana pada kelas tersebut  49 % siswa belum mencapai nilai KKM yang telah ditentukan oleh sekolah.

       Peningkatan tindakan kelas terhadappembelajaran penyimpangan sosial melalui model pembelajaran talking stik menggunakan prosedur PTK  dengan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahapan, yaitu:
(1) merencanakan,
(2) melaksanakan,
(3) pengamatan,
(4) refleksi.

       Tahap-tahap kegiatan dilakukan agar tercapai peningkatan hasil belajar penyimpangan sosial dan mencapai nilai KKM. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Berdasarkan Pengolahan data Kualitatif (data observasi). Terdapat peningkatan hasil belajar pada setiap tugas.  

       Nilai tertinggi pada Indikator 2, 4 dan 5 yaitu 4. Sedangkan nilai terendah indikator 1, 3 dan 6 yaitu 2. Rata-rata nilai seluruh Indikator yang diukur adalah 2,66. Hasil pengolahan data angket  penilaian siswa tentang metode pembelajaran talking stik pada konsep penyimpangan sosial terlihat bahwa kegiatan belajar memiliki potensi atau nilai baik sekali Berdasarkan Data Kuantitatif ( data tes hasil belajar), Hasil pengolahan data selisih ketercapaian pada tiap indikator dan tiap siklus terlihat peningkatan hasil belajar indikator 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 = 0,9 : 2,8 : 1,6 : 1,6 : 2,5  : 2,2. Peningkatan hasil belajar terendah pada indikator 1 yaitu 0,9. Peningkatan hasil belajar tertinggi pada indiktor 2 yaitu 2,8. Adapun rata-rata ketercapaian indikator  adalah 1,9.Perbandingan ketercapaian seluruh  tugas pada siklus II kelompok 1: 2 : 3 : 4 : 5 : 6 adalah 7,6 : 24,1 : 13,8 : 13,8 : 21,6 : 19. Perbandingan ketercapaian seluruh  tugas pada siklus II kelompok 1 : 2: 3: 4: 5 = 1,7 : 1,8 : 2,2 : 2 : 1,8 adalah = 25,7. Kemudian masing-masing angka ketercapaian seluruh tugas dibagi 25,7 Lalu dikalikan 100, hasilnya adalah 6,6 : 7 : 8,6 : 7,8 : 7.  Perbandingan ketercapaian seluruh indikator pada tiap kelompok menunjukan peningkatan hasil belajar yang merata.

       Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis terbukti yaitu penerapatan model pembelajaran talking stik  dapat meningkatkan hasil belajar materi penyimpangan sosial secara signifikan.

Kata kunci :    Penyimpangan sosial,  Talking stik, IPS Terpadu


1. PENDAHULUAN

       Salah satu materi ajar yang diajarkan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu adalah “Memahami masalah penyimpangan sosial”. Mata pelajaran ini mempunyai karakteristik sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajarai masalah masalah yang terjadi di masyarakat dan lingkungannya. Dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan  dan konsep yang terorganisir tentang alam dan kemasyarakat yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah.

Dalam penerapan materi pembelajaran dengan standar kompetensi: “Memahami masalah penyimpangan sosial” , indikator yang terdapat dalam standar kompetensi tersebut antara lain:
1) Mengidentifikasi penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat,
2) Mengidentifikasi bentuk-bentuk penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat,
3) Memberi contoh penyimpangan sosial yang terjadi dalam keluarga dan masyarakat,
4) Mengidentifikasi akibat penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat,
5) Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan sosial,
6) Mengidentifikasikan upaya upaya pencegahan penyimpangan dalam keluarga dan masyarakat.

       Kasus yang terjadi pada siswa kelas 8.A SMP Negeri Satu Atap Pebayuran Kabupaten Bekasi  dimana pada kelas tersebut  49 % siswa belum mencapai nilai KKM yang telah ditentukan oleh sekolah. Padahal materi pelajaran tersebut sangat berkaitan dengan kondisi atau keadaan permasalahan masyarakat disekitar siswa. Hal ini dikarenakan sebagian besar siswa beranggapan materi pelajaran tersebut mudah dan sering mereka dengar atau bahkan melihat sendiri di lingkungan mereka. Sehingga berkurangnya perhatian, keinginan tahuan maupun kemampuan belajar, kreatifitas dan partisipasi siswa serta rendahnya kemampuan tematis yang dimiliki  sehingga  penerapan materi penyimpangan sosial kurang atau tidak dikuasai oleh siswa.

       Untuk mengatasi kegagalan tersebut, peneliti menemukan sumber atau informasi yang berkaitan dengan solusi terhadap masalah tersebut berupa model pembelajaran  talking stik yaitu model pembelajaran yang menarik serta tidak menjenuhkan yang dapat menarik perhatian dan membuat siswa bersemangat dalam mengikuti pelajaran penyimpangan sosial. Dengan model pembelajaran ini makin  banyak siswa yang mencapai kompetensi individu yang diharapkan.

       Model pembelajaran talking stik merupakan salah satu model pembelajaran variasi pendekatan keterampilan proses yang mengarah pada pembelajaran secara kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Metode mengajar yang menggunakan sebuah tongkat sebagai alat bantu berupa alat  penunjuk kepada siswa untuk menjawab soal-soal yang dipertanyakan berkaitan dengan materi pembelajaran yang sedang diajarkan. Pertanyaan yang diberikan di observasi siswa setiap permasalahan berdasarkan teori-teori penyimpangan sosial yang ada.

       Melalui metode pembelajaran talking stik peneliti memiliki keyakinan bahwa hasil belajar penyimpangan sosial akan meningkat secara signifikan. Oleh karena itu  peneliti melakukan penelitian tindakan kelas di kelas 8A SMP Negeri Satu Atap Pebayuran Kabupaten Bekasi dengan judul: “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR  MATERI PENYIMPANGAN SOSIAL”

       Permasalahan yang akan diteliti adalah “Apakah penerapan metode pembelajaran talking stik dapat meningkatkan hasil belajar  penyimpangan sosial pada siswa kelas 8A SMP Negeri Satu Atap Pebayuran Kabupaten Bekasi?”

Tujuan penelitian adalah:
(1)   Meningkatkan pemahaman siswa dalam kegiatan pembelajaran penyimpangan sosial,
(2)   Memberikan kontribusi pemikiran terhadap dunia pendidikan tentang keberhasilan pembelajaran menggunakan model pembelajaran talking stik.

Manfaat penelitian dapat dimanfaatkan bagi siswa:
(1)   Membangkitkan motivasi dan gairah dalam belajar,
(2)   Meningkatkan penguasaan materi penyimpangan sosial,
(3)   Meningkatkan partisipasi aktif dalam belajar,
(4)   Meningkatkan keterampilan berbicara, berpendapat dan berdemokrasi,
(5)   Meningkatkan kemampuan bekerjasama dan  menghargai orang lain.

Penelitian dapat dimanfaatkan bagi guru:
(1)   Mendorong guru untuk menggunakan metode mengajar kooperatif dalam  kegiatan KBM
(2)   Memperoleh informasi konkrit/data empirik tentang keberhasilan  penggunaan metode pembelajaran talking stik dalam KBM,
(3)   Meningkatkan ketepatan penggunaan pendekatan, media dan model  Pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar.


2. METODE PENELITIAN

       Prosedur penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran penyimpangan sosial melalui metode pembelajaran talking stik yang dilakukan sebanyak dua kali siklus. Dimana setiap siklus dilaksanakan dalam empat tahapan kegiatan, yaitu:
(1)   Perencanaan
(2)  Pelaksanaan,
(3)  Pengamatan/Observasi dan
(4)   Refleksi. Tahap-tahap  yang dilaksanakan digambarkan dalam bentuk spiral tindakan (Adaptasi Hopkins 1993) sebagai berikut:

       Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan pada fase kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Dengan cara demikian diharapkan pada siklus kedua seluruh diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar penyimpangan sosial melalui model pembelajaran talking stik.

       Berikut langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada setiap fase:

SIKLUS I

1. Tahap Perencanaan
       Kegiatan penelitian yang dilakukan pada fase perencanaan, sebagai berikut:
(1)   Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk siklus I  pada  kegiatan pembelajaran penyimpangan sosial melalui metode pembelajaran  talking stik,
(2)   Mengelompokan siswa kedalam  lima kelompok dengan jumlah anggota sebanyak delapan siswa. Tugas tiap kelompok adalah membuat ringkasan materi yang telah ditentukan pada lembar observasi,
(3)   Menyiapkan pedoman observasi sebagai instrumen untuk membuat ringkasan materi Pembelajaran yang diharapkan dan menjawab tiap indikator yang tersedia,
(4)  Mempersiapkan kartu  soal berisi pertanyaan yang mencakup materi  Bahasan yang dapat menjawab pertanyaan pada tiap indikator,
(5)   Mempersiapkan lembar kerja siswa untuk mengukur tingkat ketercapaian indikator  tiap individu atau siswa.

2. Tahap Pelaksanaan
(1)   Melaksanakan rencana peneletian di kelas,
(2)   Melaksanakan observasi pada saat pelaksanaan PTK di kelas, meliputi
(a)   Mengadakan penilaian terhadap kegiatan siswa maupun kegitan kelompok.
(b) Melaksanakan pengisian angket siswa tentang manfaat metode pembelajaran talking stik pada materi penyimpangan sosial.
(c)   Melakukan kolaborasi dengan observer dalam pengolahan data.

       Adapun jadwal kegiatan pelaksanaan tatap muka pada kegiatan pembelajaran  materi penyimpangan sosial. Kegiatan PTK  siklus pertama  yaitu 2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit pada jam pelajaran IPS Terpadu  hari Senin, 9 September 2013. Menggunakan 2 orang guru tim IPS terpadu sebagai observer.

3. Tahap Pengamatan atau Observasi, meliputi :

Deskripsi Hasil Penelitian Siklus Pertama (I)

       Pada Pelaksanaan siklus pertama Observer dalam melakukan pengamatan pembelajaran materi penyimpangan sosial berpedoman pada RPP siklus pertama yang telah disusun dalam fase perencanaan.

4. Tahap Refleksi, meliputi :

       Refleksi dilakukan bersama-sama observer tentang hal-hal yang  telah terlaksana pada siklus pertama. Hasil refleksi adalah ditemukan kelemahan-kelemahan baik perangkat maupun pelaksanaan kegiatan pada siklus pertama dan mencari solusinya.

a. Komponen yang harus diperbaiki

       Refleksi dilakukan bersama-sama dengan observer dengan tujuan untuk menemukan kegiatan yang perlu diperbaiki serta menetapkan solusinya. Hasil refleki terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus I ditemukan adanya kegagalan  pada penguasaan dua  indikator yang diharapkan yaitu indikator dua  dan lima, berisi:
(1)   Mengidentifikasi bentuk-bentuk penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat .
(2)   Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan sosial.

       Penyebab kegagalan dalam materi penyimpangan sosial melalui metode pembelajaran talking stik pada siklus pertama dapat disebabkan oleh pertama kemampuan dalam memahami dan menguasai teori-teori yang berkaitan denganmateri penyimpangan. Kedua kompetensi pada metode pembelajaran talking stik merupakan pengalaman baru dimana kemampuan perseorangan dalam satu kelompok mempengaruhi penilaian terhadap keseluruhan anggota kelompok. Oleh karena itu, mereka harus diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk melakukan pengamatan dan peningkatan penguasaan maupun pemahaman materi perorangan.

b. Solusi yang digunakan

       Solusi yang dilakukan untuk perbaikan pada siklus berikutnya cara atau teknik  yang digunakan, sebagai berikut:
(1)   Siswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk meningkatkan pemahaman  maupun penguasaan materi penyimpangan sosial melalui kegiatan tanya jawab atau diskusi kelompok atau mempelajari kembali buku pegangan atau paket yang tersedia.
(2)   Siswa dibekali dengan instrumen berupa peta konsep yang harus diisi untuk mempermudah pemahaman dan penguasaan materi siswa secara terinci.
(3) Setiap kelompok diberikan kebebasan waktu yang seluas-luasnya untuk meningkatkan pemahaman maupun penguasaan materi dengan bimbingan atau  arahan dari guru atau peneliti.

c. Kesimpulan

       Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada proses pembelajaran penyimpangan sosial melalui metode pembelajaran talking stik pada siklus I terdapat kegagalan pada indikator dua dan lima dengan latar belakang masalah kurangnya pemahaman atau penguasaan materi yang diharapkan.

       Hasil refleksi pada siklus pertama dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus kedua sebagai berikut:  Pertama siswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk meningkatkan pemahaman maupun penguasaan materi penyimpangan sosial melalui kegiatan tanya jawab atau diskusi kelompok atau mempelajari kembali buku pegangan atau paket yang tersedia. Kedua siswa dibekali dengan instrumen berupa peta konsep yang harus diisi untuk mempermudah pemahaman dan penguasaan materi siswa secara terinci. Ketiga setiap kelompok diberikan kebebasan waktu yang seluas-luasnya untuk meningkatkan pemahaman maupun penguasaan materi dengan  cara bimbingan dan arahan dari guru atau peneliti.

SIKLUS II

1. Tahap Perencanaan

       Kegiatan penelitian yang dilakukan pada fase perencanaan siklus 2 adalah: Sama seperti pada perencanaan siklus pertama. Perbaikan terjadi pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

2. Tahap Pelaksanaan

       Adapun jadwal kegiatan pelaksanaan tatap muka pada kegiatan pembelajaran materi penyimpangan sosial. Kegiatan PTK  siklus ke-2 yaitu  2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit pada jam pelajaran IPS Terpadu hari Senin, 16 September 2013. Menggunakan 2 orang guru tim IPS terpadu sebagai observer.

       Langkah langkah kegiatan tahap pelaksanaan sama seperti pada siklus pertama. Perbaikan terdapat pada saat berdiskusi yaitu  kegiatan tutor sebaya dan siswa di berikan lembar peta konsep untuk mempermudah pemahaman.

3. Tahap Pengamatan atau Observasi Deskripsi Hasil Penelitian Siklus ke

a. Kegiatan pendahuluan

       Dalam kegiatan pendahuluan peneliti menyampaikan judul materi yaitu penyimpangan sosial dengan standar kompetensi: “Memahami masalah penyimpangan sosial”, materi yang sama dengan materi satu minggu sebelumnya . Peneliti menekankan pada seluruh siswa bahwa materi merupakan pengembangan materi pada pertemuan sebelumnya dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pada seluruh siswa untuk memperoleh nilai hasil belajar yang lebih baik dari yang sebelumnya.

       Selain itu peneliti menegaskan bahwa setiap siswa yang melakukan kegiatan secara baik dan aktif karena semua kegiatan akan memperoleh nilai untuk individu sendiri maupun untuk nilai kelompok.

       Sebelum kegiatan talking stik dimulai siswa diberikan kesempatan untuk meningkatkan pemahaman atau penguasaan konsep dengan bimbingan atau arahan dari guru atau peneliti dengan bantuan instrumen berupa peta konsep.

b. Kegiatan inti

       Langkah-langkah kegiatan inti pembelajaran Memahami masalah penyimpangan sosial melalui model pembelajaran taking stik, sebagai berikut:

       Hasil anasalisis terhadap kegiatan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran talking stik  pada siklus-2, Pembelajaran terlihat tampak lebih Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Demokrasi (PAKEM GEMBROT). Pada  kegiatan diskusi terlihat terjadi komunikasi saling bertukar informasi membahas tugas peta konsep yang diberikan secara aktif, menyenangkan dan terjadi proses demokrasi yaitu menghargai pendapat teman.

       Pada kegiatan pembelajaran menggunakan metode talking stik pada siklus-2, Siswa dapat menjawab pertanyaan yang diberikan sesuai dengan materi yang diberikan. Siswa juga dapat memberikan argumentasi berupa pendapat pribadi dan menghubungkan dengan materi yang sedang di berikan. Terdapat peningkatan jumlah jawaban siswa yang diberikan terjawab dengan benar dan terjadi jawaban penerapan terhadap kehdupan sehari-hari.

       Di akhir kegiatan siswa dapat mengungkapkan perasaan menyenangkan pada pembelajaran menggunakan metode pembelajaran talking stik. Siswa dapat membuat kesimpulan materi yang sedang diberikan.

c. Kegiatan Penutup

       Kegiatan siklus ke-2 diakhiri dengan dua kegiatan yaitu tes hasil belajar dan refleksi siklus ke-2 berupa kolaborasi antara guru dan tim observer serta pengisian angket siswa tentang penggunaan model pembelajaran talking stik pada konsep penyimpangan sosial.

4. Tahap Refleksi

       Refleksi dilakukan bersama obsever melakukan analisis data dengan urutan kegiatan sebagai berikut. Pertama, mengumpulkan data  dan mencatat hal-hal penting yang dapat membuktikan hipotesis. Kedua mengorganisasikan data menurut urutan kegiatan pembelajaran. Ketiga adalah menarik kesimpulan yaitu kegiatan mengolah data secara kuantitatif untuk menarik kesimpulan.

C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

1. Pengolahan data Kualitatif (data observasi)

       Data hasil penilaian peneliti, observer dan siswa pada materi penyimpangan sosial dengan model pembelajaran talking stik, diperoleh nilai Skor kelompok kegiatan talking stik sebagai berikut:

       Selisih ketercapaian indikator pada kelompok yang diamati dalam kegiatan pada konsep penyimpangan sosial melalui model pembelajaran talking stik diperoleh dengan mengurangi skor siklus II dengan  skor siklus I,  adalah sebagai berikut:

       Hasil pengolahan data kegiatan belajar melalui  metode pembelajaran talking stik pada konsep penyimpangan sosial merupakan peningkatan disajikan dalam bentuk diagram batang, sebagai berikut:

       Dilihat dari diagram peningkatan hasil belajar dengan metode pembelajaran talking stik terlihat peningkatan pada setiap indikatornya. Nilai tertinggi pada Indikator 2, 4 dan 5 yaitu 4. Sedangkan nilai terendah indikator 1, 3 dan 6 yaitu 2. Rata-rata nilai seluruh Indikator yang diukur adalah 2,66.

b. Data hasil penilaian siswa tentang metode pembelajaran Talking Stik

       Hasil pengolahan data angket hasil penilaian siswa tentang metode pembelajaran talking Stik pada konsep penyimpangan social,  sebagai berikut:

       Hasil pengolahan data angket  penilaian siswa tentang metode pembelajaran talking stik pada konsep penyimpangan sosial terlihat bahwa kegiatan belajar dengan metode pembelajaran talking stik merupakan metode pembelajaran yang memiliki potensi atau nilai baik sekali.

2. Data Kuantitatif ( data tes hasil belajar)

a. Nilai ketercapaian tes hasil belajar setiap tugas.

       Data Nilai ketercapaian tes hasil belajar pada setiap tugas dan pada tiap siklus dengan metode pembelajaran talking stik pada konsep penyimpangan sosial adalah sebagai berikut:

       Selisih ketercapaian setiap tugas pada tiap siklus diperoleh dengan mengurangi skor siklus II dengan  skor siklus I,  hasil olahan data adalah sebagai berikut:

       Hasil pengolahan data selisih ketercapaian pada tiap indikator dan tiap siklus disajikan dalam bentuk diagram batang, sebagai berikut:

       Pada diagram ketercapain nilai hasil belajar pada setiap tugas pada tiap siklus terlihat peningkatan hasil belajar sebagai berikut. Telah terjadi peningkatan pada tiap indikator yaitu indikator 1 = 0,9, indikator 2 = 2,8, indikator 3 = 1,6, indikator 4 = 1,6, indikator 5 =  2,5  dan indikator 6 = 2,2. Peningkatan hasil belajar terendah pada indikator 1 yaitu 0,9. Peningkatan hasil belajar tertinggi pada indiktor 2 yaitu 2,8. Adapun rata-rata ketercapaian indikator  adalah 1,9.

       Perbandingan ketercapaian seluruh  tugas pada siklus II kelompok 1: 2 : 3 : 4 : 5 : 6 adalah 0,9 : 2,8 : 1,6 : 1,6 : 2, 5 : 2,2 =  11,6  Kemudian masing-masing angka ketercapaian seluruh tugas dibagi 11,6 Lalu dikalikan 100, hasilnya adalah 7,6 : 24,1 : 13,8 : 13,8 : 21,6 : 19.

       Perbandingan ketercapaian hasil belajar setiap tugas persiklus pada tiap kelompok  telah menunjukan peningkatan hasil belajar yang merata pada tiap tugas

b. Ketercapaian seluruh tugas

                   Berdasarkan tabel diatas, berikut data ketercapaian nilai seluruh tugas dari setiap indikator pada siklus kesatu dan kedua sebagai berikut. Ketercapaian nilai seluruh tugas pada kelompok 1: 2 : 3 : 4 :5 = 1,7 : 1,8 : 2,2;  2 : 1,8.

       Ketercapaian hasil belajar seluruh tugas tertinggi pada kelompok 3 yaitu 2,2. Ketercapaian hasil belajar seluruh tugas tertinggi pada kelompok 1 yaitu 1,7. Ketercapaian hasil belajar seluruh tugas rata-rata yaitu 1,8. Data tersebut menunjukan telah terjadi peningkatan hasil belajar pada seluruh tugas. Berikut diagram ketercapaian seluruh tugas sebagai berikut:

       Perbandingan ketercapaian seluruh  tugas pada siklus II kelompok 1 : 2: 3: 4: 5 = 1,7 : 1,8 : 2,2 : 2 : 1,8 adalah = 25,7. Kemudian masing-masing angka ketercapaian seluruh tugas dibagi 25,7 Lalu dikalikan 100, hasilnya adalah 6,6 : 7 : 8,6 : 7,8 : 7. Berdasarkan perbandingan data tersebut disajikan dalam bentuk diagram lingkaran sebagai berikut :

       Perbandingan ketercapaian seluruh indikator pada tiap kelompok menunjukan peningkatan hasil belajar yang merata.

D. KESIMPULAN DAN SARAN

       Hasil observasi ditemukan beberapa peningkatan keterampilan siswa sebagai berikut.
(1) Terjadi peningkatan kemampuan mengungkapkan pendapat berdasarkan fakta dan teori yang ada,
(2) Peningkatan kemampuan mengungkapkan pendapat secara pribadi  dan meningkatkan rasa menyanyangi serta mengambil hikmah dari kejadian orang lain,
(3) Peningkatan kemampuan mengungkapkan pendapat berdasarkan informasi dari media masa dan menggunakannya sebagai data untuk menjawab pertanyaan,
(4) Peningkatan kemampuan menghitung nilai yang dapat diberikan melalui cara penghitungan skor soal dan skor jawaban.

       Hasil pengolahan data angket  penilaian siswa tentang metode pembelajaran talking stik pada konsep penyimpangan sosial terlihat bahwa kegiatan belajar dengan metode pembelajaran talking stik merupakan metode pembelajaran yang memiliki potensi atau nilai baik sekali.

       Berdasarkan kesimpulan,  maka disarankan:
(1)  Tingkatkan motivasi untuk selalu menulis laporan tentang tindakan kelas yang  dilakukan, sebagai langkah awal dalam melakukan penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam membuat laporan penelitian
(2) Untuk kepala sekolah agar memberikan kesempatan kepada para guru melakukan penelitian disekolah dan bila mungkin diberikan kesempatan mempresentasikan hasil penelitian pada pertemuan-pertemuan tertentu guna peningkatan mutu guru.


DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan (2006). Pedoman Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : BSNP.

Japar, Muhamad. Jerome Bruner dan Pemikirannya Tentang Pendidikan. Jakarta: Jurnal Ilmiah Mimbar Demokrasi.

Mulyana. Model-model Pembelajaran Alternatif. Jakarta: Bumi Aksara

Munawir,  dkk. Cakrawala Geografi 2. Jakarta: Yudhistira.

Ridwan, Sa’adah. Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru. Bandung: BEP Dinas Pendidikan Prop. Jawa Barat.

Suharsini Arikunto,  dkk. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Trianto.  Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Umasih, Dra., M.Hum, dkk. IPS Terpadu untuk SMP Kelas VIII.  Bandung: Ganeca Exact.

Penulis : Guru IPS SMPN Satu Atap Pebayuran Kabupaten Bekasi